Cerita Ngewek Pesta Seks Tak Terlupakan

Bokep JepangMarch 3, 2019

Cerita Sex ini berjudul ” Cerita Ngewek Pesta Seks Tak Terlupakan” Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

“Man, nanti kamu ambil uang di ruangan saya, bawa saja dulu semuanya, nanti kamu nego hutang orang tua Fenny, kalau tak cukup nanti hubungi saya lagi…”, Herman menelponku agar aku mengurus hutang-hutang orang tua Fenny. Herman bilang, ayah Fenny menjual ibunya ke Bang Solihin untuk menebus hutang-hutang mereka. Bang Solihin terkenal sebagai kepala preman di daerah ini, ia juga yang membacking prostitusi yang ada di belakang komplek rumah Fenny. Aku kemudian mengajak Mamat dan Syamsul, karena mereka pernah dibawah pimpinan Bang Solihin.

Uang di meja Herman ternyata sekitar delapan puluh dua juta Rupiah, tumben sekali Herman menyimpan dana tunai seperti ini. “Jam segini dia pasti ada di tempat prostitusi itu”, kata Mamat. “Orangnya agak susah diajak nego, mungkin susah kita mau lepaskan jeratan hutang-hutang keluarga Fenny”, sambung Syamsul selagi kami dalam perjalanan menuju ke arah sana.

Aku belum pernah memasuki daerah ini, dari luar cuma nampak seperti komplek perumahan biasa, makin ke dalam malah semakin sepi, kiri kanan hanya ada pohon seperti masuk ke dalam hutan, jalan pun rusak parah. Namun sampai ke dalam ada plang tertulis ‘Selamat datang di 1001 Malam’. Masuk dari gerbang ini sudah terlihat ramai, kiri kanan penuh mobil dan motor yang parkir, kemudian ada meja dan kursi tempat nongkrong orang-orang di sini.

Ku lirik kanan dan kiri, banyak sekali perek-perek yang memandangi kami, bahkan banyak juga yang masih ABG. Ada beberapa orang berpakaian loreng, entah mereka adalah anggota brimob yang membacking atau hanya sekedar mengecek atau bermain-main di sini. Para pria hidung belangpun menatapi kami, wajar, mungkin bagi mereka kami adalah orang baru di sana, karena Mamat dan Syamsul pun sudah lama tidak mengikuti Bang Solihin.

Di dalam ada beberapa gedung, dan gedung yang paling besar itu adalah tempat di mana Bang Solihin nongkrong. Kami pun turun coba berjalan ke arah pintu yang dijaga beberapa orang berbadan kekar. “Mat, lama tak tengok muka busuk kau…”, teriak salah satu pria yang berjaga itu, ia sepertinya kenal dekat dengan Mamat. Ternyata namanya Deni, teman Mamat juga selagi dulu di bawah pimpinan Bang Solihin.

Setelah berkenalan, kamipun menjelaskan maksud kedatangan kami. “Hmm, kayaknya gue pernah dengar kasus ini…”, jelas Deni. “Ibunya Fenny sekarang bekerja di sini sebagai wanita penghibur, namanya Yully…”. Cukup tragis terdengar, apalagi mendengar kelanjutan cerita Deni, “Suaminya Yulli telah menjualnya ke Bang Solihin, terus suaminya sudah tidak di sini, dengar-dengar sih kabur ke Bali… Hutangnya besar Mat, dengar-dengar sampai miliaran Rupiah…”.

Mendengar itu aku sangat kaget, apalagi aku hanya membawa puluhan juta Rupiah. “Dengar-dengar Fenny juga dijual ke Bang Solihin…”, lanjut Deni. “Apa bisa kami ketemu dengan ibunya Fenny?”, tanyaku. “Hmm, di sini tidak diperbolehkan bertemu tamu, kalau mau kalian boking aja…”, jawab Deni.

Aku sebenarnya cuma mau minta petunjuk ibunya Fenny, aku takut ketemu Bang Solihin yang semakin membuat kacau keadaan, apalagi nanti kalau dia tahu keberadaan Fenny ada di tempat kami. “Oke lah, kami bawa keluar…”, balasku. “Ops, ga bisa bro, cuma diperbolehkan main di sini… Ambil kamar saja, ga mahal kok, tar untuk kalian gue kasih diskon, apalagi Mamat kawan gue…”, jawab Deni. Mau tidak mau aku menyetujuinya.

Sambil menuntun kami ke arah kamar, Deni mengolok-ngolok kami, “Doyan threesome juga bro? Hahaha…”. Mamat hanya membalas, “Kayak gak tau aja…”. Kuperhatikan keadaan sekeliling, isi gedung ini seperti hotel, ada sekat kamar di sepanjang lorong, kiri dan kanan, mungkin ada sekitar puluhan kamar di gedung ini. Kondisi pun bersih terawat, seperti hotel-hotel mewah pada umumnya. Ada beberapa gadis ABG berlalu lalang ditemani pria hidung belang. Kami menuju ke lantai dua, tidak jauh dari tangga, Deni membukakan pintu sebuah kamar.

Aku dan Syamsul masuk duluan, sedangkan Mamat membereskan pembayaran terlebih dahulu di depan kamar, seperti biasa, pengantar pasti minta tips. filmbokepjepang.sex Mamat dan Deni ngobrol cukup lama di depan pintu, aku membiarkannya, anggap saja mereka sedang reuni. Di dalam kamar terdapat ranjang besar, seorang wanita sedang duduk sambil nonton televisi.

“Yully?…” tanyaku padanya. “Iya, dua orang ya?”, tanya wanita itu. Saat ia menoleh ke arahku, aku cukup kaget, dia seorang wanita yang cantik, wajah orientalnya sangat manis, tubuhnya masih seksi walaupun umurnya mungkin sudah menginjak kepala tiga. “Kami mau berbibcang sebentar…”, kataku sambil mendekatinya. “Oops, kalian kalau mau wawancara, minta ijin sama bos saja dulu…”, jawabnya yang kesal mengira kami adalah reporter.

“Gini… Kami mau tanya…”, belum sempat menyelesaikan pembicaraan, tante Yully langsung memotong, “Maaf, saya bekerja sesuai perintah atasan!”, hardiknya. “Baiklah…”, jawab Syamsul yang juga terlihat kesal, ia langsung membuka resletingnya. Padahal kami ke sini untuk maksud baik, dijawab seperti itu tentunya Syamsul cukup naik pitam.

Tante Yully langsung membuka laci meja yang ada di samping ranjang, ia mengeluarkan dua buah kondom lalu membukanya. Syamsul segera menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu mendekati tante Yully. Penisnya diarahkan ke wajah tante Yully agar tante Yully segera memakaikan kondom tersebut. Setelah itu tante Yully langsung mengulum penis Syamsul yang telah dibungkus kondom bercita rasa pisang.

Di sini memang sangat terjaga akan keamanannya, tidak boleh ada yang tidak memakai kondom. Makanan dan minuman pun dilarang bawa dari luar, bahkan rokok sekalipun. Seminggu sekali para wanita penghibur di sini juga dicek kesehatannya, bila ada yang terjangkit penyakit HIV AIDS maka akan segera diungsikan ke panti rehabilitasi.

Melihat aksi tante Yully mengulum penis Syamsul seperti menikmati eskrim calpico yang nikmat, penisku pun terasa mengeras. Aku juga tidak memikirkan tujuan kedatangan kami lagi, segera aku juga membuka pakaianku hingga telanjang bulat. Ku dekati tante Yully dan ku pretel habis pakaian tante Yully. Susunya besar dan motok, segera kuremas-remas dengan penuh nafsu.

Setelah puas dikulum, Syamsul ingin merasakan goyangan tante Yully, ia segera membaringkan tubuh tante Yully dan menusukkan penisnya langsung ke vagina tante Yully. Karena sibuk melayani Syamsul, aku yakin tante Yully tidak sempat memakaikan kondom ke penisku, jadi terpaksa aku memakaikannya sendiri.

‘Wah, dapat rasa strawberry nih’, pikirku dalam hati melihat bungkus kondom yang barusan ku sobek. Aku sudah tak sabar ingin merasakan kuluman tante Yully. Ku arahkan penisku ke mulut tante Yully yang terbaring di atas ranjang. Dua lubang dibantai sekaligus, sepertinya tante Yully sudah sangat terlatih.

Kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, hmm, ternyata benar, kecantikan Fenny dan tante Yully sudah bagaikan pinang dibelah dua. memekrapet.com Anak dan ibu sangat cantik hingga menggoda nafsu. “Oh yes…”, desahku kenikmatan merasakan penisku yang semakin hangat di dalam mulut tante Yully. Tante Yully pun sepertinya sangat menikmati penisku, hahaha, benar-benar dicicipi seperti permen lolipop rasa strawberry. “Ini rasa kesukaanku…”, kata tante Yully menyempatkan bicara disela menyepong.

Tubuhnya bergoncang karena tusukan Syamsul yang bersemangat, susunya kuremas, cukup besar hingga tanganku hampir tidak menutupinya. Matanya hanya meram melek menikmati goyangan. Aku sebenarnya kurang tega, karena anaknya, Fenny sudah bergabung dengan kami, tapi kapan lagi dapat kesempatan seperti ini?

Hampir setengah jam kami bercinta two in one, Mamat pun belum kunjung masuk menyusul. Aku pun sudah bergantian posisi dengan Syamsul. Walau tante Yully sudah berumur, tapi vaginanya masih seret, hanya karena becek membuat aku lebih mudah melesapkan penisku ke lubang vaginanya. Ku peluk tubuh tante Yully hingga dadaku menyentuh erat dengan susunya, ku goyang terus di atas ranjang, sedangkan Syamsul sedang istirahat, ia menyalakan rokok dan duduk sambil memilih siaran televisi.

Cukup lama aku menikmati tubuh tante Yully, hingga aku pun berejakulasi. Ku tarik penisku yang penuh dengab sperma terbalut kondom. Tante Yully kemudian terkapar karena cukup lelah. Aku pun meninggalkannya untuk membersihkan penisku di kamar mandi. Dalam kamar mandi ku dengar Syamsul dan tante Yully sedang berbincang-bincang, Syamsul pasti menceritakan maksud kedatangan kami. Aku pun keluar dari kamar mandi, walaupun kami bertiga masih dalam keadaan bugil, tapi kami tidak sungkan untuk saling berkenalan.

Tante Yully langsung meneteskan air mata setelah mendengar kabar dari kami. “Fenny yang malang…”, kata tante Yully. “Bapaknya yang penjudi itu telah menjual kami ke bang Solihin, untungnya Fenny bisa kabur…”, sambung tante Yully. “Tante sudah nyicil hutang-hutang bapaknya Fenny, tidak banyak lagi, semoga tante bisa keluar dari tempat ini dan segera bertemu dengan Fenny…”, kata tante Yully yang membuatku menjadi sedikit iba.

Ia benar-benar merindukan anaknya, air matanya bercucuran hingga membasahi pipinya. “Tenang saja, Fenny baik-baik saja, dia juga rindu kok sama tante…”, aku berusaha membujuknya agar tidak menangis lagi. Lalu kucari celanaku untuk mengambil uang, “Emangnya sisa hutangnya berapa?”, aku bertanya kembali.

“Tinggal seratus juta, tapi bang Solihin sangat kejam, ia pasti menghitung bunganya juga…”, jawab tante Yully semakin sedih. ‘Waduh, uang yang ku bawa tidak lah cukup’, pikirku dalam hati.

Aku pun menjelakannya kepada tante Yully agar dia tenang, karena aku akan menghubungi Herman untuk membawa sisanya. “Telp boss lah Syam…”, aku memerintahkan Syamsul. Ia lalu berdiri dan mencari handphone nya yang tertinggal di saku celana.

Cerita Lainnya:  Kado Ulang Tahun Tak Terduga Dari Mama

Belum sempat mendapati handphone, pintu pun terbuka. Mamat masuk beserta seorang pria besar dengan tegap dan berwajah garang. “Man, nih bang Solihin…”, Mamat memperkenalkanku dengan pria berwajah garang itu. “Boss…”, sapa tante Yully kepada pria itu. Aku pun kemudian berjabat tangan dengannya, pria besar itu adalah pimpinan di sini, wajahnya terdapat goresan, membuatku sedikit takut melihatnya.

“Oke, Mamat sudah menjelaskan kedatangan kalian… Kalau tidak memandang Mamat, aku tak akan lepaskan wanita ini…”, kata bang Solihin. Mungkin Mamat sudah banyak berjasa padanya. “Kalian bawa saja wanita ini…”, katanya. “Terima kasih bang…”, kami mengucapkan terima kasih padanya.

Pria besar itu pun pergi dari kamar sambil berkata, “tapi main-nya ga gratis ya…”. Kami pun tertawa sambil menjawab, “Iya bang, kami tambah waktu… Tar kami bayar…”, jawab kami. Tante Yully kegirangan lalu memelukku yang berada paling dekat dengannya. “Thanks…”, bisiknya di dekat telingaku. Mamat yang tadi tidak sempat menikmati tante Yully pun segera menanggalkan pakaiannya. “Ini ga gratis loh, bang Solihin minta bantu menemukan keberadaan bapaknya Fenny…”, kata Mamat.

Ternyata sedari tadi Mamat bernegosiasi dengan bang Solihin. “Tenang aja bro, itu sudah kerjaan kita dari dulu…”, lanjut Syamsul. “Sebagai tanta terima kasih, aku akan melayani kalian seumur hidup…”, kata tante Yully yang kemudian kembali membagikan kami kondom. Hahaha, ronde selanjutnya nih.

Aku dan Syamsul membiarkan Mamat beraksi sendiri terlebih dahulu. Tante Yully melayani Mamat dengan sangat semangat, tanpa kenal lelah. Ini kesempatan kami, karena kalau sudah kembali ke tempat kami, Herman lah yang berkuasa. Mamat menyetubuhi tante Yully dengan nafsu selayak suami istri, permainan cinta yang kemudian mengundang nafsu birahi kami.

Hatiku kembali berkecamuk, jantungku berdegup kencang, dan penisku mulai kembali menegang. “Napa man? Mau lanjut?”, tanya Syamsul yang sedang duduk di sampingku. “Hahaha, kayak bro ga nafsu aja…”, balasku yang kembali menghisap rokok dan mencari channel tv yang enak ditonton. Syamsul juga kelihatan kembali bergairah, malu menjawab pernyataanku tadi, ia hanya memainkan penisnya yang kembali mengeras.

Mamat memeluk tante Yully dengan erat, dilumatnya bibir tante Yully sambil menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok vagina tante Yully dengan penisnya. “Enakk…”, rintihan tante Yully yang benar-benar jelas terdengar.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku pun bangkit dan coba melihat apa yang terjadi. “Ada apa?”, tanyaku melihat Deni di depan pintu. “Jangan lama mas, takut boss berubah pikiran…”, kata Deni yang sedari tadi juga mengawasi gelagat bang Solihin. “Kalau ga mandang Mamat, gue sih ga bakal kasih saran…”, lanjut Deni. “Iya bro, ne lagi tungguin Mamat…”, jawabku. Benar juga pikirku dalam hati, bang Solihin sudah memberi kemudahan, kalau ia berubah pikiran, bisa-bisa kami tidak diperbolehkan keluar dari sini.

Aku pun kembali masuk dan mengenakan kembali pakaianku. “Mau ke mana man? Belum ronde dua nih…”, tanya Syamsul. “Kita mesti cepat tinggalin tempat ini bro, sebelum bang Solihin berubah pikiran…”, jawabku sambil mengemas semuanya. Mendengar itu, Syamsul juga segera memakai kembali pakaiannya. Kami hanya menunggu Mamat dan tante Yully menyelesaikan acara mereka.

Tidak lama, mereka sudah terkapar, Mamat dan tante Yully sudah menyelesaikan permainan cinta mereka dan mencapai orgasme. Aku pun meminta mereka segera bergegas untuk meninggalkan tempat ini. Tanpa menunggu lama, kami pun keluar, tak berani berpamitan dengan bang Solihin, kami hanya keluar dengan diantar oleh Deni sampai ke parkiran. “Thanks bro..”, salam Mamat sambil berjabat tangan dengan Deni. “Sip, kapan-kapan kita ngumpul lagi…”, balas Deni.

Aman pikirku, kami pun keluar dari tempat itu. Aku menyupir dan Mamat duduk di sampingku, sedangkan Syamsul dan tante Yully duduk di belakang. Ternyata di sepanjang perjalanan, Syamsul melanjutkan percintaannya dengan tante Yully. Ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengerah.

Tante Yully pun mulai mengocoknya, mereka tidak takut dengan pandangan dari luar, karena jendela mobil menggunakan kaca film, sehingga sulit melihat jelas ke dalam mobil dari arah luar. Tante Yully sudah profesional, ia mulai menundukkan kepalanya untuk menyepong penis Syamsul. Sialan pikirku, tahu gini aku milih duduk di belakang saja deh. Sedikit iri juga karena permainan mereka hanya membuat penisku terangsang tanpa pelampiasan.

Akhirnya sampai juga di tempat usaha Herman, sedangkan Mamat dan tante Yully sudah menyudahi aktivitas mereka. Kami segera naik ke lantai tiga, tempat biasanya kami berkumpul. “Mamaaaa…..”, teriak Fenny ketika melihat kami tiba bersama ibunya. “Sudah beres?”, tanya Herman padaku. “Sip dah…”, jawabku. Reuni antara ibu dan anakpun berlangsung beberapa saat, setelah itu kami pun saling berkenalan. Hmm, nambah anggota lagi nih tempat kami. “Oke, nanti malam kita buat pesta…”, kata Herman membuat seluruh orang di sini bersorak gembira.

“Fenny…”, melihat kondisi anak gadis ku yang ternyata baik-baik saja membuat hatiku lebih tenang. “Ma… Fenny kangen…”, dia lalu memelukku dengan erat. Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat aku dan Fenny berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi aku masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat bang Solihin yang lebih bobrok.

Fenny memilih di sini, aku yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yang dari berbagai usia. Fenny lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Mamat dan Syamsul pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yang marak sebagai tempat transaksi narkoba.

“Yully…”, aku memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini. Sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Herman, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskabku dari jeratan bang Solihin, kemudian ada Satorman, Mamat dan Syamsul yang tadinya menjemputku. Selain itu ada teman-teman Herman yang lain; Tono, Andi, Iskandar, Marwan, Budi, dan Eko. Serta tiga gadis pemijit selain Fenny; Ayu, Lisa dan Widya.

Mereka semua baik sekali dengan Fenny, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasanku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam. “Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..”, ajak Herman agar aku bergabung dengan usahanya.

“Kasihan juga si Fenny tidur sendirian…”, lanjut Herman. Aku pun mengiyakan karena aku sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Fenny dan Satorman saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.

Aku pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Herman meminta Satorman menemaniku, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemputku, mau tidak mau Tono lah yang ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yang berlebihan, menatapku saja seperti menatap mangsa.

Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuhku yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi aku adalah keturunan china, walaupun umurku sudah 32 tahun, namun aku tetap menjaga bentuk tubuhku.

Dalam perjalanan aku banyak berbincang dengan Tono, aku duduk di sebelahnya yang sedang menyupir. Sesekali ia meraba pahaku yang kebetulan aku menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Tono adalah sahabat Herman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Tono pun bekerja pada orang tua Herman.

Karena rabaan lembutnya di pahaku membuatku sedikit terangsang, stidak ingin mengecewakannya, aku pun membalas meraba pahanya. Tono tersenyum girang, ku buca resleting celananya lalu ku keluarkan penisnya yang sudah ngaceng. Selama perjalanan aku mengocok penisnya dengab tanganku, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami. “Tar malam boleh dong temani Tono?”, tanya Tono sebelum aku turun dari mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena aku terlalu berfokus pada masakanku, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Fenny yang membantuku di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria. “Yuk, kita bawa ke sana…”, aku mengajak Fenny anakku untuk membantuku membawa masakan. Cukup kaget ketika aku membuka pintu ruangan kumpul.

Cerita Ngewek Pesta Tak Terlupakan
Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas pikirku. Namun lebih kagetnya lagi ku lihat Fenny membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya aku tidak lah awam dengan ini, namun tidak tega saja melihat anakku sendiri yang berbuat demikian.

Aku pun meletakkan masakan yang aku pegang di atas meja. “Ayo gabung…”, aku ditarik Tono yang lalu memaksaku melepaskan pakaianku. Tanpa perlawanan, aku mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Fenny melayani bos Herman, aku melihatnya dengab jelas, Fenny menyepong penis Herman dengan nafsu.

Sedangkan Ayu melayani Satorman dan Andi, Widya melayani dua sekawan alias Mamat dan Syamsul, sedangkan Lisa menyepong punya Iskandar dan Marwan. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Aku kemudian ditarik Tono, “Sepongin dong tante…”, pintanya. “Awas, hyper tuh…”, ejek Eko dan Budi yang sedang minun-minum.

Cerita Lainnya:  CERITA SEKS PENIKMAT GAIRAH ISTRI ORANG

Kumainkan penisnya yang mengeras itu, penuh nafsu Tono mencengkram erat rambutku agar aku terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipiku, sungguh benar Tono adalah seorang yang hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susuku. “Tante masih cantik…”, ia coba merayuku agar aku semakin terangsang.

Ku pandangi yang lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama. “Tante… Boleh gak Tono request?…”, tanya Tono. Aku pun kemudian menghentikan seponganku untuk mendengar apa permintaannya. “Pengen model bondage…”, lanjutnya sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya, melainkan meneruskan seponganku. Penisnya terasa hangat dimulutku, ku kulum dan ku jilat. Tono hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawabanku, sungguh pria yang hypersex.

Kulihat Eko dan Budi tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Herman yang berdua dengan Fenny, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Fenny tidak lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Fenny terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok penis Herman.

Di arah lain, Ayu sedang didoggie oleh Satorman. Andi tidak diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Ayu. Depan belakang diberi penis, terlihat Ayu juga sudah cukup profesional. Budi yang tadi minum bergabung dengan Marwan dan Iskandar untuk menikmati Lisa, ada yang mengentotnya, ada yang disepongnya, dan ada yang menyedoti susunya.

Sama halnya keadaan Widya, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Mamat, Syamsul dan Eko. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vagina nya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.

Seponganku mungkin sudah membuat Tono sedikit bosan sehingga ia langsung mendorongku jatuh, dan lalu ia melumat susu ku dengan kasar. Tubuhku ditindihnya hingga aku sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumin seluruh tubuhku. Sambil menyedot susuku, Tono memainkan jarinya di arah vaginaku. Mungkin ia sedikit marah karena aku tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.

Puting susuku terasa perih, Tono seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vaginaku pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Aku hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Solihin juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu kasar.

Tono lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantatku pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Tono pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali. “Sorry tante…”, ia tersenyum padaku. Aku hanya berbaring lemas di lantai.

Kemudian Tono mengikat tanganku kebelakang sambil berbisik, “Tante pura-pura berontak saja…”. Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, aku pun pura-pura berontak, aku menendangkan kakiku agar Tono menjauh. ‘PLLAAAKKKK…..”, Tono menampar pipi ku dengan keras hingga aku pun meneteskan air mataku. Sekujur tubuhku diikat dengan tali hingga aku tidak bisa bergerak, hanya kakiku saja yang dibiarkan mengangkang. Bukan hanya itu, Tono pun melakban mulutku dan kemudian ia pun mengeluarkan sextoy dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk penis besar.

Aku melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Tono pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vaginaku. “Hmmmmm….”, aku tidak bisa bersuara, mulutku tertutup lakban, benda besar itu terasa tidak muat di vaginaku.

Sakit sekali hingga aku kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vaginaku, berputar-putar seperti bergejolak. Tono tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susuku.

Aku tidak jelas memandang sekitar, mataku penuh dengan air. Kurasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya aku saja yang diperlakukan begini. Puting susu ku ditarik Tono hingga mancung ke depan. Aku juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatanku sudah muncrat keluar, membasahi sextoy dan tangan Tono, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sextoy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vaginaku pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.

Puas menyodokkan penis mainan itu, Tono akhirnya menarik keluar dari dalam vaginaku. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang ku lihat Tono akan memasukkan penisnya yang tidak begitu besar ke dalam vaginaku. Untuk mendapatkan sensasi, Tono menampar pipiku dan menjambak rambutku hingga aku hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulutku masih tertutup lakban.

Aku terus digenjot oleh Tono, badanku terasa sakit karena ikatan tali di tubuhku sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, kucoba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Herman, ia langsung menarik lakban yang menutupi mulutku dengan kasar, “Mama Fenny… Sepongin dong…”, ia lalu mendekatkan penisnya ke mulutku.

‘Hoek’ mual sekali bagiku karena penisnya masih basah, karena barusan saja Herman menyetubuhi anakku Fenny, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus ku kulum penisnya itu. Badanku bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yang lain entah bagaimana, baik Fenny, Ayu, Lisa maupun Widya. Yang jelas, ini adalah pesta seks yang cukup melelahkan. Ku lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk dipojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya aku yang masih bermain cinta.

“Bos, Tono minta ijin semprot…”, pinta Tono yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vaginaku. Herman mencabut penisnya dari mulutku, lalu Tono menggantikan posisinya, Tono mau aku mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulutku.

Mulutku sudah belepotan dengan sisa sperma Tono yang sebagian sudah tertelan, Tono pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang aku buat. Sekarang giliran bos Herman yang menggenjot vaginaku, dengan tubuh masih terikat, aku terus digoyang.

Tak berhenti, kini Satorman datang bersama Andi untuk bergantian memintaku sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Fenny, Ayu, Widya dan Lisa. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuhku bergoyang mengikuti irama genjotan Herman, dan mulutku terus disumpal penisnya Satorman dan Andi.

Tak lama dari itu, kulihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Satorman dan Andi. Mereka mengerumuniku, menjamahku, dan meremas-remas buah dadaku. Hanya Tono yang masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tidak istirahat, ia masih meminta Widya untuk memainkan penisnya. Sedangkan Ayu, Fenny dan Lisa menyantap makanan dan minuman yang tersisa. Seperti halnya Tono, Herman pun menarik penisnya dari vaginaku dan berejakulasi di mulutku. Kini giliran Satorman yang mengambil posisi Herman.

Aku sudah capek, vaginaku pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena aku barang baru bagi mereka. Aku sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka. Setelah Satorman, giliran Andi, seterusnya entah siapa lagi, aku sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran.

Ketika aku terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Fenny dikerumuni Syamsul, Andi, dan Tono, sedangkan Ayu menyepong Satorman sambil didoggie oleh Mamat, gadis lainnya si Widya dan Lisa sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Herman yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.

Aku tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, aku dibangunkan Fenny dan melepaskan ikatanku, aku pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai. “Habis mandi, siapin makanan ya ma… Bos Herman pergi jemput tamu…”, pesan Fenny sebelum aku masuk ke kamar mandi.

“Huah… Capeknya…”, desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuhku. Setelah ini aku harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Herman.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Herman yang ditemani Satorman belum kunjung pulang. Aku dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang ku siapkan tidak segar lagi. Tono dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersamaku di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini. “Fen, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih”, aku meminta Fenny untuk membantuku. “Oke ma, mama istirahat saja…”, jawab Fenny.

Aku pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Capeknya hari ini, aku pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiranku, karena aku belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Fenny anakku yang juga ikut berpesta…

Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

(Visited 161 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat