Hadiah Perpisahan Dari Mantan

Bokep JepangAugust 31, 2018

FilmBokepJepang – Kejadian ini berlangsung sekitar bulan Maret 2016 yang lalu. Tanggal berapa perbedaan aku sudah lupa. Yang aku ingat, saat itu hubungan Eksanti dengan Yoga sudah membaik, bahkan mereka telah bertunangan dan merencanakan untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.

Saat itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yang sama di daerah Selatan – Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Yoga sedang mendapat pelatihan di Jakarta selama 6 bulan. Sebagai bekas teman dan atasan Eksanti, aku memang pernah dikenalkan dengan Yoga. Yoga jadi cemburuan. 

Memang harus aku akui Eksanti memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Yoga itu. Pikiran jika menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau serorang lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki pacar yang cantik.

Aku mengatakan Eksanti cantik, bukan merupakan penilaianku yang subyektif. Banyak teman-teman yang lain yang juga begitu. Bahkan beberapa yang berbeda, karena Eksanti memiliki daya tarik seks yang luar biasa tinggi. Bagi kaum lelaki, jika melihat mata Eksanti,

Percaya atau tidak, mata Eksanti begitu sayu seolah-olah ‘pasrah’ ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigit-gigit, jika Eksanti sedang gemes. 

Sungguhkah ciptaan Tuhan yang sangat eksotis dan sensual. Ketika saya berbicara dengan Yoga sebelumnya, secara tidak sengaja kami akan mempertimbangkan peluang bisnis yang mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. 

Pikiran dagangku segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal untuk Yoga untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang. 

Siang itu, sehabis bertemu dengan salah satu klien di sebuah kantor di daerah Kuningan, aku merencanakan untuk mampir ke rumah kost Yoga? yang juga rumah kost Eksanti – untuk menitipkan proposal yang aku janjikan. Aku mengendarai mobil di atas tempat kost Yoga. 

Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Yoga yang biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Yoga sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Yoga. 

Setelah aku memarkir mobil di halaman depan rumah, aku masuk ke ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Yoga. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Yoga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Eksanti.

Masing-masing kamar tidur tertutup tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Yoga karena benar aku sangat perlu dengannya. Saat saya sedang pesan, samar-samar terdengar suara dari dalam kamar Eksanti, di depan kamar Yoga, ada seseorang di dalam kamar. 

Aku memastikan bahwa di dalam kamar itu adalah Eksanti, orang lain. Aku mengetuk pintu ringan sambil mendaki nama Eksanti. Tak beberapa lama lalu pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku melihat wajah Eksanti tampak dari celah pintu yang terbuka.

“Eh, Mas .. cari Mas Yoga yaa .. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Yoga buru-buru Mas”, jawabnya sebelum aku bertanya.

Entah mengapa, bercampur dengan mata Eksanti yang mengatakan itu, pikiranku jadi teranjang masa-masa yang indah yang pernah kami alami dulu. 

Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, “Kamu nggak ke kantor hari ini?”

“Lagi nggak enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor”, jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya. 

Ada rasa menyesal mengapa dia harus membolos ke kantor hari ini. 

“Terus, Yoga biasa jam pulang pulang, Santi?”, Tanyaku rahasia berbasa-basi. 

“Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Yoga hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya”, jawabnya terasa kesal. 

Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Yoga pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal. Aku akan mencari jenis bahan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Eksanti. 

Agak lama aku terdiam. Aku membandingkan, melihat bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yang memanjang dan memang sangat indah itu. Semakin lama aaku terlihat semakin aku berfantasi macam-macam. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Eksanti tidak untuk sekejap pun membalas tatapan mataku.

Sebuah desiran sangat keras di dadaku, dan aku benar-benar memastikan bahwa Anda masih memiliki getar rasa yang sama denganku. 

Setelah lama kami terdiam, “Teman-teman kamarmu yang lain lagi di kemana semua, Santi?”, Dengan mata menatap sekeliling aku bertanya, membaca anak-anak yang lain. 

“Mas ini mau nyari Mas Yoga atau ..”, kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya. 

Akhirnya aku memutuskan untuk sampai pada titik aja. 

“Aku juga pengin ketemu denganmu, Santi!”, Jawabku berpura-pura. 

Dia tertawa pelan, “Mas, kenapa, sih?”, Ia memandangku lembut.

“Boleh aku masuk, Santi? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, ”, jawabku lagi. 

“Sebentar, ya .. Mas, kamar Santi lagi siang nih!” Eksanti lalu menutup pintu di depanku. 

Tidak beberapa lama balik pintu terbuka, lalu dia mempersilakan saya masuk ke dalam kamar. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Eksanti masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menatap tubuh Eksanti yang membelakangiku.

Saat itulah dia berdiri kaos ketat warna kuning yang terlihat pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang dan pahanya bulat dan mulus. Kejadian itu menjadi tegang bagi semua keindahan, ditambah dengan khayalanku dulu, membuatku bisa membelai-belai lembut kedua pangkal pahanya itu. 

Kemudian Eksanti duduk di sampingku. Lututnya ditekuk dengan celananya yang notun bertambah ke arah membuat pahanya semakin terpampang lebar. 

Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Eksanti. Dia mencoba menarik ke bawah ujung celananya untuk mengisi pahanya yang sedang aku nikmati. 

“Mas, mau bicara apa, sih?”, Tentu saja tiba-tiba saja Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau ada aku tidak punya bahan diskriminasi yang berarti dengannya. 

Soalnya dalam pikiranku saat itu memang ada khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya. 

“Mmm .. San .. aku beberapa hari ini biasa bermimpi,”, kataku berbohong. 

Entah dari mana aku mendapatkan Kalimat itu, aku sendiri tidak tahu atau aku merasa seperti tenang dengan pernyataan itu. 

“Mimpi tentang apa, Mas?”, Kelihatannya dia begitu serius menangapui dari memandangku. 

“Tentang kamu, San”, jawabku pelan. 

Bukannya terkejut, malah malah dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Eksanti menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar terlalu keras.

 “Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, Tanyanya penasaran. 

“Ya .. biasalah, kamu juga pasti tahu”, jawabku sambil tertunduk.

Tiba-tiba tiba saya pertunjukkan tanganku. Aku benar-benar mati lalu menoleh ke arahnya. 

“Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yang di rumah, lagian aku juga’ kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?” “Makanya aku juga bingung, Santi. 

Lagian kalaupun bisa, aku soal nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi ”, jawabku pura-pura memelas. Kami sama-sama terdiam. 

Aku meremas jemari keluarga dan aku menuju bibirku. Dia membayarku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung seksual. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuh.

Aku memandangi layar. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati ekspresi, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba saja tiba-tiba berpaling dari mulutku mendarat di pipinya yang mulus. 

Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuh. Tangan kananku menggapai dagunya lalu arahkan muka berhadapan dengan wajahku. 

Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Eksanti menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku. 

“Mas .., cukup mas!”, Bisa mendorong Dadaku untuk membatalkan kegiatanku. 

Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura merencanakan maaf keras. 

“Maafkan aku, Santi .. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu”, aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku. 

“Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyatakan Mas karena mimpi-mimpimu itu. 

Konsumen juga, kita pernah mencari deket Mas ”, apa pun yang ada memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan. 

Aku menatap layar lagi. Ada semacam kesedihan dianalisa hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi. “Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memerhatikan lagi, tapi ..” kalimatnya terputus.

Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat “ingin membantu ..” yang diucapkannya. 

Santi, aku cuma ingin beda denganmu, hanya saja .., sebelum kamu benar-benar menjadi milik Yoga. 

Agar aku bisa melupakanmu ”, kataku memohon. 

“Kita kan sama-sama sudah ada yang punya, Mas .., nanti kalau ketahuan gimana?” Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. 

Kesimpulannya masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Yoga. 

“Seandainya ketahuan .. aku akan bertanggung jawab, Santi”, setelah itu aku memeluknya lagi. 

Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah pertempuran ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus baliknya dengan mesra,

sementara bibirku tidak tinggal diam tercium pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Eksanti mendesah. Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu.

Mulutku meraup bibirnya. Eksanti diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu aku menjulurkan tulisanku hingga mulutnya yang seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. 

Nafasnya mulai tidak teratur mencampur lidahku memilin lidahnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk membelai payudaranya. 

Perlahan telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada di sisi payudaranya. Aku benar-benar hampir tidak bisa mengerjakan birahiku saat itu. 

Apalagi aku sudah sering membayangkan saat ini terulang lagi bersamanya. Kini telapak tanganku sudah ada di atas gundukan daging di atas dadanya. 

Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, mengatakan bahwa seperti ini yang paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas payudaranya yang sebelah kanan, Tangan Eksanti menahan aksiku. 

Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya. “Mas, jangan sekarang Mas .. Santi takut ..”, Menekan berulang kali. 

Aku juga merasa tindakanku saat ini betul-betul nekat ,luas pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada orang lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya. Aku lalu berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana.

Aku tinggal memiliki laki-laki yang suka gayung dalam berbagai hal, bahkan dalam masalah percintaan. Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Eksanti, sedangkan Eksanti masih di atas kasur sambil melakukan rambut dan kaosnya kuningnya yang terasa kusut. 

“Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih”, Eksanti menatap wajahku. 

“Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengubah ketenangan kita, Santi”, jawabku sambil menatap permukaan dadanya yang baru saja aku remas-reMas.

Santi duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuh. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku harga nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menuntut telapak kakiku. 

“Tapi kalau ketahuan .. Mas yang tanggung jawab, yaa ..”, silakan tuntutan penjelasanku lagi. 

Aku mengangguk. “Terus kapan jalan-jalannya, Mas?”,

“Gimana kalo besok sakit selai 4, besok kan jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?”, Tanyaku.

 “Ketemu di mana?”, Tanyanya penasaran.

“Kamu memindahkan aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?”, Tanyaku lagi. 

Dia tersenyum menatapku, “Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.”, Aku tertawa. 

“Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi !!,”, tegasnya. 

Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, jadialnya dulu aku bisa merasakan kehangatan tubuh Eksanti seperti dulu lagi. Makanya besok sengaja aku pilih waktu sakit hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. 

Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal sajanya saja. Lagian ngapain dia mesti Meminta tanggung jawab, seandainya aku tidak menjalankan apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah.

Pukul 3 siang, akhirnya aku kembali ke kantorku, di samping memang Eksanti juga Aku akan segera datang karena dia juga takut sendiri tiba-tiba Kami memergoki kami sedang di kamar. Namun sebelum pulang aku masih ada lagi. Aku justru memerintahkan agar Eksanti untuk punggungnya bersandar di dinding. 

Kesempatan inilah yang saya gunakan untuk memerinci kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan. Di kantor .., di rumah .. aku selalu gelisah. Kejantananku senantiasa menegang apa yang sudah dan akan saya lakukan terhadap Eksanti nanti. Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu berjalan begitu lambat. 

Hingga pukul 5 sakit, Seperti waktu yang telah kami sepakati kemarin, aku sedang menanti-nanti telepon dari Eksanti. Aku mulai gelisah bercinta 15 menit sudah lewat, namun Eksanti belum juga meneleponku. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga setengah jam, dan tiba-tiba saja tangan berbunyi. Seketika aku mengangkat telepon itu.

Dari belakang sana aku mendengarkan suara Eksanti yang sangat aku nanti-nantikan. Eksanti meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan untuk keluar dari kantor lebih awal. 

Banyak pekerjaannya yang menumpuk, karena ia tidak masuk ke kantor. Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan menuju ke arah wartel tempat di mana Eksanti sedang menungguku. 

Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama melihat aku keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna oranye bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abu-abu. 

Blazer telah membuat ia lepas, dan ditenteng bersama tas pekerja. Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian kasual setiap hari Jum’at. Eksanti langsung naik ke atas mobilku, setelah yakin tidak ada orang lain yang mengenalinya di tempat itu. 

Aku tersenyum melihatnya. Eksanti kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tidak dipol dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya menyapukan lipsglossfor, yang membuat jantungku semakin deg-degan. 

Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol. Selama perjalanan, aku dan Eksanti bercerita tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku.

Ia hanya menyapukan lipsglossfor, yang membuat jantungku semakin deg-degan. Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol. Selama perjalanan, aku dan Eksanti bercerita tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku. Ia hanya menyapukan lipsglossfor, yang membuat jantungku semakin deg-degan. 

Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol. Selama perjalanan, aku dan Eksanti bercerita tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku.

Sesampainya di Ancol aku mengajak Eksanti untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nampak romantisnya sangat terasa. Tanpa canggung lagi aku memeluk sakit Eksanti, pada saat kami sedang makan malam. Eksanti juga melingkarkan insentif di pinggangku. 

Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yang di luarnya disekat-sekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang cukup tinggi, membuat aku bisa dipakai leluasa kepada Eksanti. 

“Tadi malam mimpi lagi, nggak?”, Tanyanya memecah keheningan.

 “Nggak, tapi aku tidak bisa nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu”, jawabku tanpa malu-malu. 

Eksanti tertawa, sambil melatih mencubit pinggangku.

Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah kamar di sebuah pondok di kawasan Ancol. 

Semula Eksanti menolak, karena dia takut, kami tidak bisa bertahan diri. Aku terakhir meyakinkan Eksanti bahwa aku sedanguasaanya saja, sambil memeluk tubuh, itu saja. 

Akhirnya Eksanti mengalah. Ketika kami berada di dalam kamar cottage itu, Eksanti tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur. 

Aku mencurahkan suasana, dengan bertanya kembali kesibukan pekerjaannya hari itu. Sampai aku bertanya, ia hanya menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tidak. Hanya itu yang keluar dari bibirnya. 

“Mas, kamu pasti menghitung aku cewek murahan, yaa .. kan?”,

Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Yoga, Eksanti masih belum bisa menerima perawatan yang masuk ke dalam pondok ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sendiri dia sudah tahu apa yang akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamar tidur. 

Tinggal bagaimana mungkin aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun. “Santi, aku sudah bilang sejak dulu, aku memangaraan saja bersamamu, sebelum Yoga benar-benar menikahi kamu. 

Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah tempatnya ”, jawabku memberikan konsep pengertian.

 “Tapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?”, Eksanti menatapku dengan sorotan mata tajam.

“Kalau kamu gimana?”, Aku malah balik bertanya. 

“Aku tanya, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada pada ketus. 

“Aku sanggup, Santi”, tegasku. 

Akhirnya dia tersenyum juga. Eksanti lalu menuju ke arahku menuju tempat tidur. Duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuh dan membaringkan tubuh di atas kasur. “Janji ya, Mas ..!”, Tenang lagi. Aku mengangguk.

Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. 

Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi ekspresi yang manis, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, akhirnya mereka memberanikan diri untuk mencium bibirnya. 

Aku melumat sematura itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka ringan menerima lidahku. Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif lezat permainan lidahku, sampai-sampai nafas membuat bulan menjadi tersengal-sengal tidak beraturan. 

Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, kemudian kami mulai berpagutan lagi .. dan lagi .. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Eksanti, kini mulai aku aktifkan. 

Aku membelai, meremasi pangkal lengannya yang terbuka. Aku membuka telapak tanganku, membuat jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembutnya pangkal lengannya. 

Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah payudaranya. Eksanti menggeliat bagai cacing kepanasan bahaya terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yang jenjang. 

“Mas, jangan ..!”, Eksanti menarik tangan telapak tangan yang kini sedang biasa, menggelitik payudaranya. 

Aku tidak peduli lagi. Lagi pula dia juga tidak serius-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya saja yang seolah melarang,

Suasana yang sangat dingin, sangat kontras dengan kondisi di kamar tempat kami bergumul. Aku dan Eksanti mulai merasa kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku plasma bertelanjang dada. 

“Santi, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘yang ..”, ujarku sambil mengusap bagian puncak puting payudaranya yang menonjol. 

Eksanti kembali menatapku tajam. Mestinya aku tidak perlu memohon balasan karena saat itu aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya. Apa yang terjadi dengan saya lebih suka jika Eksanti yang membuka kaosnya sendiri untukku. 

“Tapi janji Mas yaa .., cuma yang ini aja”, katanya lagi. 

Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti aku janjikan lagi. Eksanti akhirnya terbuka kaos kekar warna orange-nya di depan mataku. Aku terkagum-kagum kompilasi bercinta dua gundukan daging di dadanya,

Payudara itu seperti membusung, menantang. Bukit-bukit di dada Eksanti naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Eksanti melepas pengait bra di punggungnya. 

Punggungnya melengkung indah. Aku menahan diri untuk mengolahnya untuk menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan bra-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang. 

Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yang akan saya bayang-bayangkan. 

“Payudaramu masih tetap bagus sekali. Santi, kamu pintar merawat, yaa .. ”, dan coba sebut situs kecantikan pada tubuh. 

“Pantes si Yoga jadi tergila-gila sama dia,”, pikirku. 

Lalu, demi-aku menarik turun piala bra-nya. Mata Eksanti terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujungnya sangat runcing dan kaku.

Saya mengusap putingnya Lalu aku memilin dengan jemariku. Eksanti mendesah. Mulutku turun ingin membayar payudaranya. 

“Egkhh ..”, rintih Eksanti mencampurkan mulutku yang melumat puting susunya. 

Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku kuat-kuatdo membuat Eksanti menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati buah dada yang kiri, aku mencengkeram dada eksanti yang satunya, yang belum pernah aku nikmati. 

Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Eksanti. Sambil mencambuk payudara Eksanti, tanganku yang membelai perutnya yang datar, berhenti di pusarnya kemudian perlahan-lahan mengitari lembah di bawah perut Eksanti.

Pernah tiba-tiba tiba, aku berhenti kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang. Eksanti tertegun sebentar memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku pantalon warna hitam yang aku kenakan. Sengaja aku sebut lampu kamar pondok itu menyala terang, agar aku bisa melihat secara nyata detail dari setiap inci tubuh Eksanti yang selama ini sering aku jadikan fantasi sexyku. 

Aku masih berdiri sambil menatap tubuh Eksanti yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu menatap. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya juga membutuhkan pinggang pada bagian pinggulnya sehingga pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna.

Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yang melindungi beberapa bagian dari wajah dan leher Eksanti. Aku membelai lagi payudaranya. Aku mencium bibirnya sambil memasukkan udara liurku ke dalam mulutnya. 

Eksanti menelannya. Tanganku turun ke bagian tubuh dan masuk ke dalam celana jeans-nya yang memang naik uang. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Eksanti yang masih tertutup celana dalamnya. 

Eksanti menahan tanganku, cium jari tengah tanganku yang membelitkan kesitan yang tepat di atas kewanitaannya. Ia telah basah .. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Eksanti. 

Pinggul Eksanti perlahan bergerak ke kiri .., ke kanan .. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya. 

“Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas ..”, sayangan tinggi sambil menatap sayu ke arahku. 

Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang tengah dialaminya, menambah kemerahan bola matanya. Sungguh, aku sampai bernafsu terlihat.

Aku menggeleng sambil tersenyum, bahkan aku malah menyuruh Eksanti untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan kanan Eksanti berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia kelihatan ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini senantiasa aku mimpikan. 

Eksanti lalu membuka kembali celana jeans-nya. Celana dalam kulit hitam yang dikenakannya begitu mini kamar rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya. 

Aku membantu menarik turun celana jeans eksanti. Pinggulnya memang sudah dinajut ketika aku sedang kesusahan menarik celana jins itu. Posisi kami kini sama-sama tinggal di dalam. Tubuhnya tampak hingga seksi saja. 

Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui begitu menarik dan memikat, penuh dengan daya tarik seks. Eksanti menarik selimut untuk mengisi permukaan tubuh. Aku bisa masuk ke dalam lalu memeluk erat tubuh Eksanti. Kami berpelukan.

Aku menarik tangan untuk mencari kepala kejantananku. Dia tampak bahagia bercinta dengan kejantananku yang tanpa penutup lagi. Memang, sebelum masuk ke dalam selimut, aku masuk ke dalamku tanpa sepengetahuan Eksanti. Aku tersenyum nakal.

“Occhh ..”, Eksanti semakin kagum bercampur dengan kenangan kejantananku yang telah tegak menegang. 

“Kenapa, Santi?”, Aku bertanya pura-pura tidak mengerti. 

Aku tahu dia pasti terkejut karena dia telah kuat dan kokohnya kejantananku saat ini. Eksanti tersenyum malu. Sentuhan kejantananku diajari membuat Eksanti merasa malu, namun hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin .. Kini, Eksanti mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. 

Belaiannya begitu mantap menandakan Eksanti jadi piawai dalam urusan yang satu ini. 

“Tangan kamu makin pintar yaa, Santi,” ujarku sambil mengamati semangat yang mulai mengocok-ngocok lembut sekujur kejantananku. 

“Ya, mesti dong .., ‘kan Mas yang dulu ngajarin Santi!”, Jawabnya sambil cekikikan. 

Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi pembohong.

Namun aku tetap berusaha untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan aku benar-benar siap untuk berpaducinta denganku. Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jari jemariku yang nakal mulai masuk dari samping celah dalam Eksanti. 

Telapak tanganku langsung berlangganan bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah. Jari telunjukku membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, Brandenburg Eksantipun semakin merasakan nikmat semata. 

“Kamu mau mencium kejantananku nggak, Santi?”, Tanyaku tanpa malu-malu lagi. 

Eksanti tertawa sambil mencubit batang kejantananku. Aku meringis. 

“Kalau punya Mas yang sekarang, kayaknya Santi nggak bisa?”, Ujarnya. 

“Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?”, Tanyaku penasaran. 

“Yang sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah besar dari yang dulu ..”, selesai berkata demikian Eksanti langsung tertawa kecil. 

“Kalau yang dibawah, gimana?”, Tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya. Eksanti merintih sambil menahan tanganku.

Tapi jariku sudah terlanjur tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Oooch .., nikmat pasti sekali kalau saja kejantananku yang diurut, pikirku. 

Tiba-tiba saja tiba, matanya menatap tajam ke arahku, dengan muka yang berkerut masam. 

“Kenapa, Santi, ada apa ‘yang?”, Aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya. 

Aku tahu dia marah, tetapi apa sebabnya ..? “Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi”, pikirku. 

“..Atau dia ingat Yoga, Bulan tiba-tiba muncul aku merasa bersalah?”

“..Terus ngapain dia mau aku cumbu sejak kemarin?”, Aku masih penasaran dengan sikapnya yang tiba tiba tiba berubah. 

“Mas ‘kan sudah janji untuk tidak melakukannya,’ kan?”, Tiba-tiba Eksanti Berbicara. Aku terdiam. 

“Aku tadinya nggak bisa masuk ke kamar ini, Karena aku takut kita bisa tahan untuk melakukan lagi,

Mas ”, tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. 

“GRATIS untuk yang satu ini, Santi tidak dapat memberikan buat Mas lagi.

Bukan hanya aku yang nggak tahan, aku juga nyata sudah nggak tahan .. Aku nggak munafik, Mas. Tapi .. kumohon, tolong .. Mas mau mengerti posisiku sekarang ”, sambil berkata demikian Eksanti mencium keningku. 

Aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Dalam posisi yang sama-sama, kecuali yang ada di sini, di dalam kamar di iklim yang romantis, dapat dibayangkan apa yang terjadi. Kelam kali ini sebaliknya. 

Bayanganku tentang kesenangan saat bercinta dengan Eksanti sirna sudah, atau tidak bisa saya rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Mereka bisa pasrah dan diam. 

Kejantananku yang sebelumnya aku rasakan telah tegang menantang, tiba-tiba saja tiba-tiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Eksanti. Eksanti meminta maaf kepadaku, mengetahui dan membatalkan pernyataannya. Aku merasa sudah tidak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi.

Aku akhirnya meminta ijin kepada Eksanti untuk mandi. Sungguh, .. aku merasa kecewa sekali. Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. Aku melihat tubuhku di muka cermin. Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras dari mandi di atas kepalaku. 

Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba tiba ada orang lain yang memelukku dari arah rujukan. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah sadar, ternyata Eksantilah yang ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku. 

“Ecchh .. Kamu Santi, jangan deket-deket acchh .., aku masih kesel nih !!”, gumamku berpura-pura sambil menawar senyumannya. 

“Aku ingin mandi bersamamu, Mas, .. boleh?”, Pintanya manja. 

Aku tidak menjawab permintaannya. Aku langsung menarik tubuh untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran udara yang berasal dari mandi, aku bangkit lengannya, lalu pandangan tajam ke arahnya. Berulang kali tanganku memikat dan memikatnya dari sensualnya dari guyuran udara.

Rambutnya yang basah semakin menambah keerotisan kisah. Dengan berat tanganku, si korban membayar uang dan menyentuh, meremas kuat. Eksanti meringis. 

Bukannya melarang, Eksanti malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku. Mula-mula dari dada, ke belakang, ke batang kejantananku. Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda. 

Diusapnya lembut batang kejantananku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh dengan busa sabun, sangat lembut mengocok batang kejantananku.

Aku benar-benar nikmat. Aku tidak tinggal diam, aku membalas menyabuni sekujur tubuh Eksanti. Aku meniru setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku. Aku mempraktekkan keras. Aku membalikkan tubuh Eksanti, kini ia membelakangiku.

Aku melihat ekspressi wajah Eksanti pada permukaan cermin. Mata kami beradueling, sementara tanganku membelai-belai payudaranya yang mulai mengeras. Aku mempermainkan puncak-putaka dengan jemariku, sementara tanganku yang disebut mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Eksanti. 

Dengan sedikit membungkukkan tubuh, aku meraba permukaan bibir kewanitaan Eksanti. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras dipengaruhi siraman udara. 

Batang kejantananku yang kini sudah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Eksanti. Saat aku merasakan, celah kewanitaan Eksanti juga sudah mulai mengeluarkan cairan cinta yang meleleh melewati jemari tanganku yang kini sedang menyusuri lorong di dalamnya. 

Aku membalikkan tubuh Eksanti kembali, kini posisinya berhadap-seiring denganku. Aku memeluk tubuh Eksanti dari batang kejantananku terkait pusarnya. 

Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukit-bukit pantatnya yang membulat indah. Eksanti membalas pelukanku dengan melingkarkan energi di pundakku. 

Kedua telapak tanganku mencapai pantat Eksanti. Aku meremas dengan sedikit kasar, tapi aku diangkat ke atas, agar batang kejantananku berada tepat di depan gerbang kewanitaannya. 

Kaki Eksanti kini tak lagi berharga permukaan kamar mandi. Keluaran Eksanti dengan sendirinya mengangkang tegangkan aku wahuh pantatnya. 

Meski demikian susah namun tetap agar batang kejantananku bisa masuk ke dalam jepitan liang kewanitaan Eksanti. Aku merasakan kepala kejantananku sudah melibatkan bibir kewanitaan Eksanti. Aku berdekatan, seiring dengan buah yang menariknya ke arah tubuhku.

Eksanti menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Eksanti, karena kejantananku yang terus-terusan basah terkena air shower. Akhirnya, aku mengangkat tubuh Eksanti ke luar dari kamar mandi. 

Aku juga tidak bisa menyia-nyiakan acara ini, apalagi terbukti, Eksanti hanya diam saja membuat kami berusaha menyusupkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Pada saat aku bangkit dari tidur, Eksanti melingkarkan kedua kenyamanan di pinggangku. Aku membaringkan tubuh di atas kasur. 

Lalu, denhan hati-hati tubuhku kuningan menimpa ke atas tubuh. Kami tidak mempedulikan butiran-butiran udara yang masih menempel di sekujur tubuh kami, Luz membasahi permukaan kasur. Aku menciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat puting payudaranya.

Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk dan tonjolan tubuh Eksanti. Aku kembali melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang kejantananku ke bibir kewanitaan Eksanti. Eksanti mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. 

Giginya menggigit bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Eksanti penuh nafsu nafsu. Bola mata seakan memohon kepadaku untuk segera memasukkan tubuh. “Aku ingin bercinta denganmu, Santi”, bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Eksanti. Kata-kataku yang akan membuat wajah Eksanti memerah. 

Mungkin, setelah bersama Yoga, dia jarang mendengar Permintaan yang terlalu ke titik begitu. Aku bisa memastikan, Eksanti memang agak malu mendengarnya. Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku sejati, Karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa membeli persetujuan darinya. 

Aku bukan tipe laki-laki yang demikian. Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, mencatat berdasarkan tanpa ada pemaksaan. Eksanti menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan utama rasa senangnya hatiku.

Akhirnya .. “..yes!”. 

Mula-mula seret seret memang, tapi aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, kepala kejantananku membelah liang kewanitaannya yang ternyata sangat kencang menjepit batang kejantananku. Dinding dalam kewanitaan Eksanti yang sudah jadi licin, itu adalah untuk kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. 

Eksanti memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga aku kesakitan. Namun aku tak peduli. “Mas, gede banget, occhh ..”, Eksanti menjerit lirih.

Tangannya turun pukulan batang kejantananku. “Pelan maas ..”, penekanan berulang kali, padahal aku sudah melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikmu ini. 

Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Yoga, pacar Eksantibreak sebesar yang aku miliki. Makanya Eksanti ternyata merasa kesakitan. Akhirnya batang kejantananku terbenam dan di dalam kewanitaan Eksanti. 

Aku berhenti untuk menikmati penolakan yang muncul akibat otot-otot dinding kewanitaan Eksanti. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna.

Aku melumat bibir Eksanti sambil terus-menerus menarik batang kejantananku, .. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk .., keluar .., masuk .., keluar .. Aku minta Eksanti untuk membuka kelopak gelap. Eksanti menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin mengatakan aku menikmati batang kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya. “Aku suka kewanitaanmu, Santi, kewanitaanmu masih tetap rapet, ‘yang”, ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Eksanti masih terasa enak sekali. “Icchh .. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku. “Tapi enak ‘kan,’ yang?”, Tanyaku, yang dijawab Eksanti dengan sebuah anggukan kecil. Aku minta Eksanti untuk menggoyangkan pinggulnya. Eksanti langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka batang kejantananku, Santi?”, Tanyaku lagi. Eksanti hanya tersenyum.

Batang kejantananku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang ada yang punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku. “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. 

“Occhh ..”, aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku akan angkat dadaku, buat jarak dengan dadanya, dengan bertumpu pada kedua tanganku. 

Dengan demikian aku bisa bebas dan leluasa untuk mengelakkan-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Eksanti. Aku memperhatikan dengan seksama kejantananku yang keluar masuk lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Eksanti semakin melebarkan kedua pahanya, sementara fungsi melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Eksanti yang semakin tidak terkendali.

baca juga : Kuberikan Keperawananku Kepada Kekasihku

Cerita Lainnya:  Selingkuh Dengan BOS Susan Yang Bohai

“Santii .. enak banget, ‘yang, kamu makin pintar,’ yang ..”, ucapku merasa keenakan. 

“Kamu juga, Mas .., Santi juga enakk ..”,, jawabnya sepertinya malu-malu. Eksanti merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.

Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata-kata, “aduh..occhh ..”, yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Eksanti semakin berdenyut sebagai pertanda Eksanti akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga menyerap hal yang sama dengannya. 

Namun, Anda bisa menemukan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yang aku alami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa. Aku mempercepat goyanganku membuatku terlihat Eksanti hampir mencapai orgasmenya. 

Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menghisap dan menggigiti puting susu Eksanti. Aku menghisap dalam-dalam.

“Occhh .. Mas ..”, jerit Eksanti panjang. 

Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Eksanti mendapatkan kenikmatan yang sempurna. 

Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuh mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Pada saat tubuh menghentak-hentak, jangan sanggup lagi untuk mengalami lebih lama. 

“Saanntii .. aakuu .. mau keluaarr .. saayang .. occhh .. hh ..”, jeritku.

Aku ingin melihat keluar batang kejantananku dari dalam liang senggamanya. Namun Eksanti masih ingin tetap dirasakan orgasmenya, gema tubuhku serasa dikunci oleh folio yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku mencari cara memuntahkan cairan dari ujung kejantananku yang hampir meledak. 

Aku merasakan tubuhku bagaikan layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Aku tidak bisa mengeluarkan batang kejantananku lagi, karena spontan Eksanti juga menarik pantatku ke tubuhnya, berulang kali. Mulutku yang berada di belahan dada mengeksanti menghisap kuat kulit putihnya, lalu meninggalkan bekas di sana. 

Telapak tanganku mencengkram buah dada eksanti. Aku meraup segalanya, sampai-sampai Eksanti kekayaan itu kesakitan. Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya .. plash .. plash .. plash .. (8X),

Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Eksanti pada saat aku sampai orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti. Batang kejantananku masih berada di dalam liang kesenangan Eksanti. 

Eksanti mengusap-usap permukaan punggungku. “Kamu menyesal, Santi?”, Ujarku sambil mencium pipinya. Eksanti menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum. Eksanti balasan. Aku meyandarkan kepalaku di dadanya. 

Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku mesti cepat pulang ke rumah, karena nyonya aku tidak bisa digunakan untuk menelepon terlambat. Demikian pula dengan Eksanti, yang saat ini telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon suami istri, yaitu makan malam bersama di rumah mereka. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat.

(Visited 172 times, 1 visits today)
Categories
WhatsApp chat